Posted on Sabtu, 09 Feb 2019 21:09 WIB

Jakarta - Kasus penipuan online berkedok penjualan bebek ternak murah cukup mengagetkan. Sebab pelakunya hanya lulusan sekolah dasar (SD), tapi mampu meraup ratusan juta dari aksinya itu.

Pakar keamanan dari Vaksincom Alfons Tanujaya tidak melihat kasus ini ada kaitannya dengan tingkat pendidikan. Karena menurutnya, kalau sudah di dunia nyata pendidikan itu tidak memegang peranan yang signifikan.

'Kelihatannya memang si penipu sudah menjalankan aksinya berulang-ulang dan cukup lama. Sehingga memiliki pengalaman teknik rekayasa sosial yang efektif untuk menipu korban,' ujar Alfons saat dihubungi detikINET, Sabtu (9/2/2019)

'Ilmu ini tidak diajarkan di sekolahan dan harus didapatkan dari sekolah kehidupan. Alias pengalaman,' tegasnya.

Kasus penjualan bebek fiktif ini disamakan Alfons dengan kasus penipuan toko ponsel abal-abal yang sempat marak. Para pelaku menawarkan ponsel premium, seperti iPhone, dengan harga yang tidak masuk di akal.

Padahal logikanya tidak mungkin ada barang mahal dijual dengan harga semurah itu. Tapi tetapi ada saja orang yang tertipu karena diberi harapan palsu seperti gambar iPhone yang tampilannya profesional dan terkesan sama dengan situs atau toko Apple yang asli.

'Bermodalkan pengalaman 'kenaifan' korban yang ingin mendapatkan produk atau barang dengan harga murah. Dengan kata lain sedikit serakah maka korbannya menjadi terlena dan tertipu,' kata Alfons.

Menurutnya lagi bila dilihat dari kacamata IT kasus jualan bebek fiktif ini tidak canggih, tapi dari soal ilmu rekayasa sosial sangat bagus. Di sini, ilmu sosial atau pemahaman atas kelemahan dan keserakahan manusia dipoles dengan sedikit ilmu IT, jadilah penipuan sempurna dan memakan banyak korban. Dan memang rata-rata korbannya agak gaptek dan kurang mengerti atau menguasai cara kerja teknologi.

'Jadi ilmu IT-nya biasa-biasa saja tetapi tetap diperlukan. Ilmu rekayasa sosialnya yg tingkat tinggi dipadukan dengan buntunya hati nurani sehingga mau berbuat kejahatan, merugikan dan menyakiti orang lain,' ujarnya.

Kesempatan ini Alfons menghimbau masyarakat untuk berhati-hati saat bertransaksi di dunia maya. Untuk melakukan transaksi dengan orang yang belum dikenal, jangan pernah melakukan pembayaran, transfer atau sejenisnya tanpa pengamanan.

Pengamanan disini adalah pihak ketiga yang membantu kalau ada masalah. Contohnya lakukan transaksi di Tokopedia. Kalau barang tidak dikirim tinggal lapor dan batalkan transaksi.

'Kalau transfer langsung meskipun diiming-imingi harga murah sampai 80 % jangan lantas percaya. Itulah rekayasa sosialnya. Atau sebaliknya minta dia kirim barang dulu, kalau sudah terima baru dibayar. Ini kan pasti penjualnya tidak mau kan. Kalau memang dia tidak mau yah pembeli juga jangan mau bayar dulu baru kirim barang,' pungkasnya. (afr/fyk)

Sumber : inet.detik.com