Posted on Senin, 11 Feb 2019 15:00 WIB

Kudus - Tim Robotic Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kudus sukses meraih medali perunggu di Thailand. Begini kisah di balik sukses itu, termasuk kendala mereka soal bahasa.

Medali perunggu digondol tim Robotic MAN 1 dalam Thailand Inventors Day dan Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC), Thailand, 2-6 Februari 2019. Mereka juga meraih penghargaan spesial World Invention Intelectual Properly Associations (WIIPA).

Tim Robotic MAN 1, yang terdiri atas Azzalira Alayya Zahwa dan Alfi Fatimatuz Zahro kelas X MIPA 3, dengan dibantu guru pembimbing Arif Noor Adiyanto dan Ahmad Edi Darmawan, mengisahkan pengalaman tampil di ajang tersebut.

Saat ditemui di MAN 1 Kudus di Conge Ngembal Rejo, Kudus, Senin (11/2/2019), Arif Noor bersama tim tak menyangka bisa meraih perunggu mengingat ketatnya persaingan. Selain diikuti 30 negara dari Asia dan Eropa, ajang tersebut juga diikuti 108 tim dari Indonesia.

'Lomba di Thailand adalah pengalaman pertama bisa tampil di luar negeri. Bagi kami itu mimpi yang terwujud,' kata Arif, yang didampingi dua siswa dan guru pembimbing lainnya di Ruang Laboratorium MAN 1 Kudus.

Arif juga mengisahkan betapa bahasa menjadi kendala yang harus mereka hadapi selama di Thailand, secara khusus dalam pelaksanaan lomba. Mencari makanan halal pun bukanlah urusan mudah.

'Bahasa agak susah. Paling ya kami pakai Bahasa Inggris dengan disertai isyarat tubuh,' ucapnya, diamini yang lain.

'Kalau ada warung yang jual ayam, ternyata juga menyediakan daging babi. Mungkin saja, alat masaknya jadi satu,' imbuhnya.

Robot Mosugemo, Alat Peringatan Dini Bencana

Di ajang tersebut, tim Robotic MAN 1 Kudus merangkai robot yang dinamai Mosugemo, akronim dari monitoring, suhu, getaran, dan karbon monoksida, yang merupakan alat peringatan dini bencana gunung meletus berbasis short message service (SMS).

Mereka merangkai robot karena gunung berapi banyak menimbulkan bencana dan dikhawatirkan mengakibatkan korban. Indikator meningkatnya aktivitas gunung berapi dapat diketahui dari meningkatnya suhu, getaran, dan gas karbon monoksida.

Jika sensor suhu, getaran, dan gas karbon monoksida mendeteksi adanya peningkatan pada elemen-elemen tersebut maka alat akan mengirimkan peringatan berupa SMS ke nomor telepon seluler yang sudah ditentukan.

Alat diletakkan di lereng gunung berapi. Nantinya, dari alat itu akan mengirimkan pesan bila terjadi peningkatan suhu.

'Alat robot ini untuk memonitoring suhu, getaran, dan gas karbon monoksida sebagai peringatan dini bencana meletus berbasis SMS,' jelas Azzalira.

'Nomor ponsel yang dikirimkan isi pesan adalah nomor yang telah kami terima. Kalau di daerah bencana, maka nomor warga daerah bencana bisa didata untuk dimasukkan ke alat. Itu pun harus ada sinyal ponsel,' tambahnya.

Arif menambahkan, ada pembaruan pada robot tersebut dibandingkan ketika menjadi juara 1 Madrasah Aliyah The Best and Simple Construction Rancang Bangun Mesin Otomatis Bencana, yang diadakan Kemenag di Depok (Jawa Barat), Oktober 2018 silam.

'Pengembangan kami tambahi miniatur gunung hanya sebagai tampilan. Kami kembangkan lagi dengan menambah pemanas sama pemberi getaran. Fungsinya untuk mendeteksi,' tambah Arif.

Sementara itu pihak sekolah amat mengapresiasi karya siswanya tersebut. Bahkan, sekolah bertekad akan mengembangkan dan merangsang siswa lainnya merangkai alat yang lebih hebat.

'Berupaya memajukan. Cita-cita kami MAN 1 jadi pusat pengembangan sains, teknologi, dan Al-Quran. Kesiapan madrasah yakni amat mendukung bakat dan minat yang bisa dikembangkan. Kami pacu terus dan dapat prestasi di internasional,' kata Kepala MAN 1 Kudus Suhamto.

(krs/afr)

Sumber : inet.detik.com