Posted on Selasa, 12 Feb 2019 13:17 WIB

Jakarta - Belakangan, ramai video viral murid membully guru di berbagai media sosial (medsos). Tak hanya satu, ada beberapa kejadian dengan pelaku aksi bullying berbeda-beda.

Hal semacam ini tentu sangat disesalkan. Banyak yang menilai etika kepada guru atau orang lebih tua yang diperlihatkan murid-murid tersebut seperti sudah luntur.

Pengamat medsos Enda Nasution pun punya pandangan tersendiri mengenai hal ini. Dikatakannya, fenomena ini merupakan kombinasi dari pesatnya pengaruh teknologi digital dan kesenjangan pendidikan.

'Jika diperhatikan, kasus ini banyak terjadi di daerah. Jarang di kota besar. Tapi saya nggak tau pasti soal ini. Kemungkinan karena siswa di kota sudah lebih ngerti, lebih sadar digital atau memang nggak ada kejadian itu di kota,' komentar Enda, dihubungi detikINET, Selasa (12/2/2019).

Anak-anak ini tidak tahu kalau apa yang mereka lakukan berpotensi viral dengan adanya medsos. Tidak meratanya kualitas pendidikan ikut membuat mereka tidak mendapatkan pemahaman mengenai literasi digital dengan baik.

'Kalau mereka ngerti, mereka nggak akan ngerekam, nyebarin ke medsos. Yang tadinya mereka pikir cuma buat lucu-lucuan, ternyata ditonton banyak orang. Banyak juga yang kena masalah karena nggak tahu konsekuensinya,' tutur Enda.

Kurikulum cerdas bermedsos

Enda menyebutkan, sejumlah sekolah saat ini sudah mulai menjalankan aturan membawa gadget. Namun menurutnya, tak cukup sekadar menerapkan larangan membawa atau menggunakan ponsel saat kegiatan belajar mengajar.

'Memang yang kurang itu, pengetahuan ini belum masuk ke kurikulum. Di sekolah sebenarnya ada pelajaran TIK, tapi sudah jadul nggak sesuai zamannya,' sebutnya.

Disebutkan pria yang kerap dijuluki Bapak Blogger Indonesia ini, tantangan anak-anak zaman sekarang adalah bagaimana cara menggunakan serta memanfaatkan medsos dan teknologi dengan baik.

'Misalnya bagaimana mengirim WhatsApp ke guru, bahasanya gimana, kalau disapa orang nggak kenal di medsos harus seperti apa, hal apa saja yang tidak boleh dipamerkan di medsos,' Enda memberi contoh.

Dirinya menyadari, bukan hal mudah untuk memasukkan pendidikan cerdas bermedsos ke dalam kurikulum sekolah.

'Sekarang lagi banyak diskusi. Saya dan teman-teman dari Siberkreasi dan penggiat literasi digital lainnya sudah membuka jalur komunikasi dengan Kemendiknas, bagaimana kemungkinannya masukin ke kurikulum, atau ada cara lain,' terangnya.

Enda bersama para penggiat literasi digital lainnya berharap apa yang mereka upayakan bisa mengimbangi pesatnya pengaruh teknologi digital dengan pemahaman literasi digital yang merata ke semua kalangan, termasuk siswa sekolah.

(rns/krs)

Sumber : inet.detik.com