Posted on Selasa, 12 Feb 2019 18:03 WIB

Jakarta - Dibandingkan 2014, media sosial (medsos) sudah lebih riuh menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Perang opini di medsos jadi lebih ramai, walaupun sayangnya juga makin banyak hoax yang muncul.

'Kalau 2014 lebih organik, natural. Sekarang lebih banyak hoax, nggak organik, dan channel-nya jadi lebih personal dengan masuk ke ruang-ruang seperti grup WhatsApp,' sebut pengamat media sosial Enda Nasution, dihubungi detikINET, Selasa (12/2/2019).

Komunikasi politik secara digital melalui medsos memang menjadi cara yang efektif untuk berkampanye. Namun, mengutip sebuah survei, Enda menyebutkan bahwa pengaruh medsos terhadap pilihan politik sebenarnya kecil.

'Tapi real life-nya, kita lihat medsos ini dipandang sebagai tempat perang opini,' komentarnya.

Enda mencontohkan keriuhan yang terjadi di Twitter. Dikatakannya, percakapan di Twitter sering dianggap secara umum mewakili opini se-Indonesia, padahal sebenarnya tidak.

'Kenapa Twitter, karena yang paling gampang dapat datanya. Jadi perangnya di Twitter dan seolah-olah merepresentasikan seluruh medsos di Indonesia,' jelasnya.

Pria yang kerap disebut sebagai Bapak Blogger Indonesia ini juga mengamati bahwa terjadinya perang opini merupakan konsekuensi dari sistem pemerintahan kita yang memungkinkan orang bebas berpendapat.

Selain itu, faktor budaya pun turut andil. Sebagai masyarakat komunal, orang Indonesia selalu mencari komunitas-komunitas dalam bersosialisasi.

Di era medsos, bergabung dengan komunitas bisa dilakukan dengan cara digital, antara lain masuk ke dalam sebuah grup di WhatsApp atau Facebook.

'Jadi hal-hal tersebut menambah terjadinya situasi perang opini di medsos. Yang harus dicegah adalah jangan sampai jatuh korban seperti di Madura,' ujarnya.

Indonesia Banyak Belajar

Karena media digital dianggap lebih penting dalam kontes politik saat ini, muncul upaya-upaya untuk merekayasanya. Dari situ, banyak bermunculan konten yang tidak organik. Seperti itulah yang terlihat dalam perang opini di medsos.

Pun demikian, Enda optimistis bahwa masyarakat Indonesia kini sudah lebih cerdas dan bijak dalam menghadapi perang opini yang sengit di medsos dalam menghadapi Pilpres 2019.

'Tahapannya memang pelan, tapi kita belajar. Saya yakin sebenarnya masih banyak silent majority. Yang berisik itu suaranya terdengar lebih keras jadi itu yang terlihat di medsos,' kata Enda.

Sejak 2014, menurut Enda, masyarakat Indonesia juga secara bertahap sudah belajar. Itu sebabnya, kini banyak gerakan menangkal serangan hoax dan berbagai inisiatif untuk cerdas bermedsos.

'Dengan semua ini saya yakin masyarakat kita masih cerdas. Pilpres 2019 akan jadi salah satu tahap ujian. Kita akan lulus atau nggak. Kalau lulus, itu jadi prestasi buat kita,' tuturnya.

(rns/krs)

Sumber : inet.detik.com